Sabtu, 17 Desember 2011

SEDIKIT INFO SOAL AAS

Lama nggak posting di blog ini, ternyata saya sama sekali belum cerita soal kelanjutan kuliah disini. Setelah lulus kelas ESL (English as a Second Language) pada musim panas kemarin, akhirnya saya bisa langsung masuk jurusan. Saya memutuskan untuk ngambil jurusan Television dengan degree AAS.

Apa itu AAS?
AAS adalah singkatan dari Associate of Applied Science. Secara singkat, saya mengartikan AAS itu program yang fokus untuk mempersiapkan mahasiswa-mahasiswanya untuk terjun ke dunia kerja. Selama 2 tahun, saya akan lebih banyak praktek daripada belajar teori. Kalau di Indonesia, mungkin ini mirip-mirip D3.

Kenapa ambil AAS?
Jujur, alesan saya memutuskan ngambil jurusan Television dengan degree AAS adalah karena faktor umur. Di umur 22 ini, rasanya saya udah kebelet pengen kerja dan punya penghasilan sendiri. Alesan lainnya karena biaya kuliah yang mahal. Untuk dapet gelar Bachelor (S1), saya harus transfer ke 4-year college. Kebetulan jurusan saya agak susah ditransfernya kalau di Maryland. Saya harus cari kampus yang ada jurusan TV atau Film untuk bisa transfer kelas-kelas yang saya ambil di Montgomery College. Dan setau saya, kampus yang ada jurusan TV dan Film-nya rata-rata di New York atau Los Angeles. Sayangnya biaya kuliah disana terlalu mahal ($40.000-$70.000an/tahun). Nampaknya saya harus kerja dan nabung dulu untuk dapet gelar Bachelor.

Minggu, 10 Juli 2011

5182!

9 Juli 2011: Akhirnya Indonesia tercatat dalam Guinness World Records: Largest Angklung Ensemble dengan total pemain angklung sejumlah 5182 orang dari berbagai negara bagian. Berhasil, berhasil, HOREEE! (Dora style)

Logo Guinness World Records!*

Balita pun siap membuat rekor dunia.

Monumen Nasional telah menjadi saksi sejarah ini.

Bermainlah angklung sambil tersenyum, karena senyum itu ibadah.

5182 orang main angklung! IYA BETUL, 5182 ORANG!!!*

Penyerahan Sertifikat dari GWR.*

Lapor! Sertifikat sudah di tangan!*

Foto bareng sang Maestro Angklung: Mang Udjo

Video pada saat pemecahan rekor dunia:
video
Sumber: Youtube

Catatan: Foto dengan simbol * diambil dari Facebook Fina Alatas. Maaf nggak ijin dulu sebelumnya. Ngomong-ngomong, fotonya bagus-bagus. :D

Kamis, 07 Juli 2011

LARGEST ANGKLUNG ENSEMBLE

Pada Sabtu tanggal 9 Juli 2011, Indonesia akan mencoba memecahkan rekor dunia: Largest Angklung Ensemble.
Pemecahan rekor ini akan berlangsung di National Mall, Washington DC. Target peserta yang ingin dicapai adalah 3000-5000 orang. Sayangnya baru 2000 orang yang mendaftar sebagai peserta.
Saya mencoba membantu dengan mengajak temen-temen sekelas dan orang-orang kampus. Ini beberapa cerita ketika saya menghasut orang untuk ikut:
1. Orang pertama yang saya ajak adalah salah satu counselor di kampus saya, Karissa Silver. Berawal dari curhatan kuliah, akhirnya beliau menanyakan asal negara saya. Ketika beliau tau saya dari Indonesia, dia bercerita pengalamannya saat diundang ke KBRI & Wisma Indonesia. Dia bilang: "Indonesians are so nice, whenever I come there you always serve a lot of food!". Melihat adanya peluang, akhirnya saya mengeluarkan flyer dan menjelaskan soal pemecahan rekor dunia ini. Sayang beliau nggak bisa hadir karena ke luar kota.
2. Yang kedua adalah temen sekelas saya dari Kolombia, Manuel. Berawal dari chat ngomongin bola Kolombia vs Argentina, akhirnya saya selipkan beberapa info soal acara ini. Dia janji bakal dateng. Dan pada saat perpisahan kelas, dia bilang ke dosen saya: "These guys are crazy, they're trying to break the world record!".
Sayang cuma si Manuel ini yang bisa hadir. Lumayan lah, daripada lu manyun. *cie garing
Semoga rekor dunia akan tercapai. Akhir kata, salam angklung!

RD103 - THE END!

Akhirnya kelas RD103 yang saya ambil selama sebulan ini berakhir!
Sebagai perpisahan, para murid dan sang Professor mengadakan acara perpisahan di salah satu restoran Iran bernama Moby Dick, yang kebetulan manager-nya temen sekelas kita.
Dan perlu kalian ketahui bahwa kelas ini didominasi oleh ibu-ibu yang masih niat belajar dan meraih gelar. Salut! (walaupun jadi ga ada yang bisa dikecengin..haha --> minta dihajar pacar :p).
Ini foto saat perpisahan:

Senin, 06 Juni 2011

TIPS MENGENALI "MUKA INDONESIA BANGET"

Jadi mahasiswa di luar negeri itu nggak mudah Bung!
Dan sejauh ini yang menurut saya paling susah adalah tidak adanya lawan bicara yang bisa berbahasa Indonesia di kampus. Agar rasa kesepian ini terobati, kita harus mencari kenalan orang Indonesia, dan menurut saya itu nggak gampang. Karena itu saya telah menyusun cara mencari dan berkenalan yang (tidak) baik dan benar. Inilah beberapa tips yang baru saja saya coba:

1. Perhatikan muka setiap orang di lingkungan kampus
Untuk menjalankan tips ini, kita nggak boleh pilih-pilih target, pandangi semua muka orang-orang di lingkungan kampus. Kalau ada yang keliahatan "muka Indonesia banget", hampiri dan tanya apakah dia orang Indonesia? Jika ternyata dia bukan orang Indonesia, ajaklah ngobrol biar mengurangi rasa malu.
Bingung atau lupa muka orang Indonesia kaya gimana? Tenang!
Kita bisa cek di Google, ini dia contohnya:

2. Cari perhatian target kita
Jika kita sudah menemukan target yang menurut kita "muka Indonesia banget" tapi masih belum yakin untuk ngajak kenalan karena takut salah, saran saya adalah: pancing dia untuk perhatiin kita. Salah satu caranya adalah dengan (pura-pura) nelepon sambil ngomong Bahasa Indonesia dengan volume suara yang keras dan pengucapan yang jelas.
Pengalaman yang saya alami adalah saya lagi duduk di cafetaria kampus dan ada orang yang "muka Indonesia banget", akhirnya saya SMS pacar untuk telepon saya. Niatnya mau cari perhatian target kenalan. Sayang dia keburu pergi.

3. Nguping
Ini penting sekali! Dengarkan pembicaraan target jika dia sedang teleponan atau sedang berbincang. Kalau dia ngomong dalam Bahasa Indonesia, langsung ajak kenalan!

4. Berdoa
Mau sekeras apapun kita berusaha, rasanya ada yang kurang kalau kita nggak berdoa. Jangan lupa berdoa ke Tuhan minta temen yang banyak. :D

Sementara inilah yang baru bisa saya bagi. Semoga berguna!

Selasa, 31 Mei 2011

MABA: MAHASISWA BA(R)U

Hari ini adalah hari pertama saya kuliah di Montgomery College. Berhubung kelas yang saya ambil adalah RD 103 (Reading) yang diperuntukkan mahasiswa internasional, kondisi kelasnya lebih menyerupai tempat les dibandingkan tempat kuliah.

Dosen (disini dipanggil dengan panggilan Professor); yang bernama Teri Hurst, membuka perkuliahan dengan sesi perkenalan. Yang paling menarik adalah berkumpulnya mahasiswa-mahasiswa dari berbagai belahan dunia di satu kelas ini. Dari 25 mahasiswa di kelas ini, mungkin cuma dua nama yang bisa saya ucapkan dengan benar.

Dan ketika giliran saya berkenalan tiba, inilah percakapan saya dengan sang Professor:
T: What's your name and where are you from?
R: Ryan (baca: RAIYEN!), I'm from Indonesia.
T: Well that doesn't sound like an Indonesian name right?
R: Yeah.
T: So then tell me what's your real name.
R: It is Ryan (sekali lagi, baca: RAIYEN!). But in Indonesia we pronounce it Ryan (baca: RIAN), if you can't pronounce it, just call me Aldy from my last name. (eaaaaaa)
T: Oh, is that what your friends call you? Aldy?
R: No, I'm just trying a new nickname here.

BLUNDER!

Akhirnya kita sepakat untuk memanggil mahasiswa kece yang satu ini dengan panggilan Ryan (baca: RIAN). Intinya: stick with your name, be proud of your name!

Oia, siapa yang duga hari pertama perkuliahan langsung ada test untuk nentuin mahasiswanya tepat ga ditempatin di level kelas itu, dan dari hasil test ini bisa jadi kita dinaikin ke level lebih atas atau bahkan diturunin ke level lebih rendah. Malem ini pengumumannya. Semoga ga turun level.

Akhir kata, HIDUP RAIYEN!!!

Sabtu, 28 Mei 2011

AKHIRNYA NULIS LAGI

Udah 4 bulan lamanya saya tinggal di Amerika. Ini sedikit cerita soal kondisi saya disini:

Kuliah - Alhamdulillah saya diterima di Montgomery College, salah satu community college yang terletak di Maryland. Rencananya saya masuk jurusan Televisi dan mulai masuk akhir bulan ini. Selama Summer Semester ini saya harus menyelesaikan dua kelas ESL (English as a Second Language), kalau lulus baru bisa masuk ke jurusannya. Semoga Agustus bisa masuk jurusan. Oia, ini berarti saya lepas kuliah saya di UNPAR. :(

Berat Badan - Berhubung kalau makan di restoran semacam Chinese Restaurant atau di kafe-kafe harus ngeluarin biaya yang nggak sedikit, saya lebih sering makan di restoran fast-food semacam Subway, McD, dll yang harganya jauh lebih terjangkau. Efek sampingnya adalah: Jadi GENDUT secara tidak sehat! 3 bulan yang lalu saya menimbang berat badan saya di WC umum di Wheaton Mall. Dengan membayar 25 cents saya bisa tau berat badan saya, ternyata berat badan saya naik hampir 10 kg. Pelajaran yang bisa diambil: Jangan sering-sering mengonsumsi fast-food, ga sehat!

Sekian dulu, semoga kuliah dan pencernaan saya lancar. Amin!